Meski saat ini tengah dilakukan penataan beberapa aturan yang terkait dengan industri telepon bergerak, bisnis telekomunikasi nasional nampaknya masih akan didominasi industri seluler. Hal itu berdasar tren industri ini yang meningkat dari tahun ke tahun secara signifikan.
Hingga akhir 2004, menurut catatan Asosiasi Telepon Seluler Indonesia, pelanggan layanan ponsel mencapai 32 juta. Walau menggunakan hitungan 'konvensional', diproyeksikan pada 2005 ini, pengguna ponsel akan meningkat 1,25 juta lebih pelanggan per bulan.
Ada nada optimistis angka tersebut tercapai, bahkan terlampaui apalagi jika melihat jumlah pelanggan seluler yang hinggar akhir Juni sudah mencapai 40 juta. Dari segi pendapatan, diperkirakan bisnis seluler tahun ini akan menyumbang Rp30 triliun bagi operator. Angka ini naik sekitar 20% dibanding tahun sebelumnya.
Yang menarik dari pasar telekomunikasi bergerak di Indonesia adalah kontribusi layanan pesan singkat (SMS) yang diasumsikan memberikan kontribusi sebesar 20%. Untuk SMS di Tanah Air, beruntunglah operator karena Indonesia memiliki begitu banyak hari-hari besar seperti Idul Fitri, Natal maupun Tahun Baru yang membuat orang berlomba-lomba mengirim pesan untuk teman, relasi maupun kerabat, yang membuat trafik SMS melonjak-lonjak.
Sama dengan bisnis lainnya, satu pertanyaan menggelitik dari industri seluler di Indonesia adalah prospek ke depan dari bisnis ini. Apalagi dengan average revenue per user yang kian mengecil, seperti Indosat dengan Rp74.200 di semester pertama atau turun 19,5% dibanding tahun lalu.
Dengan adanya selisih antara pertumbuhan pelanggan dan pertumbuhan pendapatan, ada sementara pihak menyatakan bahwa sektor telekomunikasi bergerak sedang memasuki masa jenuh. Pendapat tersebut terlalu prematur. Dalam bisnis telekomunikasi bergerak, yang terjadi justru sebaliknya dimana bisnis ini sedang "lincah-lincahnya".
Ada tiga alasan yang dapat dikemukakan. Pertama, perubahan gaya hidup masyarakat yang going mobile, ingin dapat dihubungi dan menghubungi di manapun berada, menyebabkan adanya kebutuhan memiliki telepon seluler. Bukan cuma di kota, orang tua dan hanya pegawai kantoran, melainkan juga hingga pelosok kampung, anak-anak, serta tukang perahu, tukang cendol, bahkan tukang pijat merasa perlu memilikinya.
Kedua, dengan melihat daya beli seperti itu, maka sesungguhnya angka penetrasi yang berkisar pada angka 22%, maka jika dibandingkan dengan beberapa negara Asean, semisal Singapura, Malaysia maupun Filipina, angka penetrasi tersebut masih dapat ditingkatkan lagi. Karenanya tak mengherankan, jika investor dari Singapura dan Malaysia begitu berminat untuk ekspansi di sini mengingat pasar mereka yang nampaknya jenuh, sementara di tanah air masih bisa ditingkatkan lebih banyak pengguna.
Ketiga, mungkin juga menjadi contoh bagi sektor telepon tetap, yaitu adanya iklim kompetisi antaroperator. Yang jelas dimanjakan dari kompetisi ini adalah pelanggan.
Yang menarik dari industri telepon bergerak, manisnya bisnis ini tidak saja dinikmati operator, namun juga masyarakat luas. Misalnya saja, menjamurnya toko yang menjual kartu perdana, isi ulang maupun ponsel dan aksesorisnya di mana-mana.
Begitu juga dengan berderaknya kembali pembangunan infrastruktur dari macrocell hingga picocell, dari BTS hingga MSC, termasuk industri content, membuat sektor yang saat badai krisis begitu terpukul sehingga menyebabkan banyak perusahaan yang bangkrut dan karyawan yang di PHK, kini bangkit kembali.
Banyak tantangan
Tantangan terberat industri telekomunikasi bergerak datang dari telepon tetap tanpa kabel (fixed wireless access). Bahkan hingga satu tahun ke depan, Telkom Flexi mengklaim akan bisa melampaui jumlah pengguna Excelcomindo.
Selain itu, disebut-sebut bahwa motor penggerak industri telekomunikasi ada di bisnis FWA. Hal itu karena FWA di Indonesia keluar dari sifat alaminya, tidak bergerak dan terbatas.
Tantangan lain yang terkait dengan pengembangan bisnis seluler adalah makin sulitnya membangun jaringan infrastruktur hingga ke pelosok. Hal itu terkait dengan ketakutan masyarakat terhadap keberadaan menara telekomunikasi. Akibatnya, di beberapa daerah, pendirian tower ditentang.
Kalaupun diperbolehkan masyarakat sekitar, hal itu dengan nilai kompensasi yang cukup besar, termasuk retribusi untuk pemerintah daerah yang hitungannya per meter ketinggian. Persoalan tersebut menjadi tugas bersama antara operator dan pemerintah daerah untuk memberikan sosialisasi yang benar mengenai keberadaan BTS-BTS.
Sementara itu, hadirnya teknologi 3G dalam telekomunikasi bergerak, bisa menjadi peluang dan juga persoalan baru. Namun, 3G diperkirakan masih butuh beberapa tahun lagi untuk mencapai pasar yang matang. Selain belum ada killer application, harga handset-nya juga masih terbilang mahal.
Dan yang tidak bisa dianggap remeh adalah soal surat edaran Menkominfo kepada seluruh operator yang mengharuskan kartu prabayar diregistrasi mulai 2006. Ini menjadi tantangan tersendiri untuk membuktikan bahwa data jumlah pelanggan telepon seluler sesungguhnya memang sama dengan data yang diklaim operator.
Selain itu, karena mayoritas pelanggan seluler adalah prabayar, jika tidak berhati-hati, kebijakan ini justru menjadi bumerang bagi operator karena bisa berdampak menghilangnya pelanggan akibat proses registrasi yang rumit.
Heru Sutadi