JAKARTA, Investor Daily
Di luar dugaan, Arwin Rasyid dan Garuda Sugardo terpilih menjadi direktur utama dan wakil direktur utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Namun, serikat karyawan Telkom menolak dirut baru itu.
Tim Penilai Akhir (TPA) yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan mengusung pasangan baru itu pada detik-detik terakhir menjelang rapat umum pemegang saham (RUPS) Telkom, Jumat (24/6) sore. Terpilihnya Arwin cukup mengejutkan karena namanya baru mencuat Kamis (23/6) dan langsung menyodok kandidat yang sebelumnya menguat. Arwin sebelumnya juga masuk bursa dirut Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI, dan Indosat. "Ibarat pertandingan, posisi Arwin sudah 4-0 dan nyaris 5-0 bila gagal lagi merebut kursi dirut Telkom," ujar sumber Investor Daily di Kementerian BUMN.
Sosok pria kelahiran Roma, Italia, 22 Januari 1957 itu cenderung tidak diperhitungkan untuk menggantikan Kristiono. Jumat (24/6) pagi, duet Arwin-Garuda mulai beredar sebagai pemimpin BUMN telekomunikasi berpendapatan Rp 33,9 triliun (2004) itu.
Menjelang pelaksanaan RUPS, Jumat pukul 13.30 Wib, nama Arwin sempat menghilang dari perbincangan. Justru kabar yang merebak adalah duet John Welly-Garuda.
Segala rumor yang beredar itu sirna ketika Roes Aryawijaya, wakil pemerintah dalam RUPS Telkom, membuka amplop putih hasil pembahasan TPA pada pukul 18.03 Wib. "Dalam rangka revitalisasi Telkom, Kristiono…. digantikan Arwin Rasyid sebagai dirut baru," ujar Roes ketika membaca surat dari TPA di hadapan peserta RUPS.
Mendengar ucapan Roes, sontak Sekjen Serikat Karyawan (Sekar) Telkom Wisnu Adhi Wuryanto mempertanyakan alasan pemerintah memilih mantan Dirut Bank Danamon yang sahamnya dimiliki Temasek Singapura itu.
"Tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak Arwin Rasyid, saya ingin bertanya alasan pemerintah memilih Arwin Rasyid," ujar Wisnu. Pertanyaan itu, kata Wisnu, untuk menunjukkan kepada duet Arwin-Garuda bahwa Sekar Telkom peduli kepada perusahaan. Sekar menolak karena Arwin bukan orang Telkom dan tidak memahami telekomunikasi.
Apalagi, jelas dia, Arwin telah ditolak untuk menduduki posisi dirut Indosat, sebuah perusahaan telekomunikasi yang lebih kecil ketimbang Telkom. "Telkom harus dipimpin oleh orang yang mengerti dan paham, taruhannya terlalu besar walau dikasih waktu. Kita akan minta bargaining, karena kompetisi di depan mata," kata Wisnu.
Roes meminta agar Sekar Telkom dan pihak-pihak lainnya memberi kesempatan kepada Arwin Rasyid. "Tolong beri kesempatan pada pemimpin untuk perlihatkan profesionalnya mulai hari ini. Kita akan tinjau kalau tidak mampu," ungkap Roes.
Beri Kesempatan
Arwin sempat melontarkan pernyataan serupa saat tanya jawab dengan wartawan pada pukul 19.10 Wib. "Saya pahami aspirasi Sekar Telkom. Beri saya kesempatan. Saya mau belajar. Tapi, jangan harap saya jadi ahli telekomunikasi. Saya berharap Telkom lebih jaya. Saya berharap dinamika bersama antara telekomunikasi dan perbankan ini akan membuat Telkom lebih jaya dan baik," kata dia.
Menurut Arwin, Telkom harus menghadapi tantangan penetrasi di perdesaan yang masih rendah. Penetrasi telepon tetap di Indonesia baru mencapai 4% dan seluler 13%. Di Cina, penetrasinya sudah mencapai 26%.
Tantangan Telkom lainnya adalah terkait tercatatnya perseroan di New York Stock Exchange (NYSE) yang memberikan konsekuensi kepatuhan terhadap peraturan yang lebih ketat. Seiring dengan deregulasi, Telkom akan menghadapi tantangan persaingan bisnis yang semakin ketat, terutama pascamasuknya perusahaan-perusahaan telekomunikasi dunia, seperti Maxis dan Huchitson.
Bagi pengamat telekomunikasi dari Universitas Indonesia Heru Sutadi, setelah gagal di PT Indosat Tbk, usaha pihak tertentu memasukkan Arwin sebagai dirut dalam sektor telekomunikasi tidak berhenti. "Dan, itu akhirnya masuk ke Telkom," ujar dia.
Menurut Heru, seharusnya Telkom sebagai perusahaan yang sudah mendunia tidak menerima begitu saja. "Meski memiliki banyak pengalaman tapi Arwin orang bank, sehingga tampaknya Telkom akan mengalami masa-masa berat ke depannya," kata Heru, kepada Investor Daily, Jumat (24/6).
Dividen 50%
Di sisi lain, RUPS Telkom telah menyetujui pembayaran dividen sebesar 50% dari laba bersih tahun buku 2004 atau sebesar Rp 3,06 triliun. Pembayaran dividen sudah termasuk dividen interim sebesar Rp 143,37 miliar atau Rp 7,11 per saham yang telah dibayarkan perseroan pada 6 Januari 2005. Sedangkan, pembayaran sisa dividen untuk pemegang saham publik akan dibayarkan sekaligus pada 3 Agustus 2005. Sedangkan, dividen saham untuk pemerintah akan dibayardalam2tahap.
RUPS juga memutuskan sisa laba 2004 sebanyak Rp 2,88 triliun (47%) akan digunakan untuk pengembangan bisnis perusahaan, Rp 61,29 miliar (1%) program kemitraan, dan Rp 122,58 miliar (2%) untuk dana cadangan perusahaan.
Selanjutnya, untuk menjamin usaha yang berkelanjutan, perseroan menetapkan anggaran investasi sebesar Rp 6,1 triliun. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur Rp 5,6 triliun dan investasi jangka panjang Rp 568 miliar. Kemudian, anggaran untuk investasi anak perusahaan yang bergerak di bidang seluler (PT Telkomsel) disetujui sebesar US$ 700 juta.
Sementara itu, terkait kasus PT Telkom di Kejaksaan Agung, Arwin mengatakan tidak akan memberikan pendapat apapun. Namun, dia meminta agar diterapkan azas praduga tak bersalah (presumption of innocent). Di lain pihak, manajemen berjanji untuk kooperatif dalam memberikan informasi dan data kepada Kejaksaan Agung.
Laporan ke SEC
Perseroan juga mengumumkan bahwa hingga penyelenggaraan RUPS, laporan keuangan konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 belum memuat pengungkapan tentang rekonsiliasi terhadap prinsip akuntansi yang berlaku di Amerika Serikat (rekonsiliasi US GAAP).
Hal tersebut dikarenakan perseroan masih dalam proses menjawab surat yang diterima dari Divisi Corporate Finance US Securities and Exchange Commision (SEC) sehubungan dengan review SEC terhadap disclosure yang terkandung dalam annual reportform 20-F Telkom tahun 2003 (20-F2 003). (tri/ed)
Susunan Direksi Telkom:
Arwin Rasyid Direktur Utama/Chief Executive Officer
Garuda Sugardo Wkl Dirut/Chief Operational Officer
Arief Yahya Direktur Enterprises &Whole Sale
Guntur Siregar Direktur Consumer
Abdul Haris Nasution Direktur Infrastruktur
Rinaldi Firmansyah Direktur Keuangan
John Welly Direktur SDM