Awal Juli, Pemerintah Tata Frekuensi 3G
Investor Daily, 21 Juni 2005

JAKARTA, Investor Daily

Dirjen Pos dan Telekomunikasi Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, penataan frekuensi seluler generasi ketiga (third generation/3G) dilaksanakan pada awal Juli mendatang.

"Kita sudah memiliki beberapa skenario untuk perpindahan frekuensi, kita berupaya memaksimalkan penggunaan frekuensi, agar tidak banyak yang wasting (terbuang)," kata Basuki, kepada Investor Daily, di Jakarta, kemarin (20/6).

Seperti diberitakan, pada pita frekuensi 1.900 terjadi pemanfaatan frekuensi yang tidak hamonis antara IMT-2000 core band (3G) dan PCS-1900. Tercatat, pita frekuensi 1.900 telah dipergunakan sebanyak 10 Mhz untuk teknologi PCS-1900 masing-masing 5 Mhz bagi Flexi dan Star One. Pemanfaatan dua frekuensi di pita yang sama tersebut menyebabkan interferensi. Menurut ahli teknologi, akibat interferensi diperkirakan 5 hingga 15 Mghz frekuensi akan terbuang percuma (guard band).

Pemerintah berupaya meminimalkan jumlah frekuensi yang terbuang. Pemindahan frekuensi Flexi milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) dinilai merupakan kebijakan yang sulit dilakukan. Alasannya, jumlah pelanggan Flexi sudah mencapai tiga juta. Pemindahan frekuensi dikhawatirkan memberikan konsekuensi biaya terlalu besar. Dari total pelanggan Flexi, sekitar 1,5 juta di antaranya merupakan pelanggan di frekuensi 1.900, yakni pelanggan di wilayah Jabotabek dan Jawa Barat.

Namun, terhadap Star One yang pelanggannya masih terbatas, pemerintah memiliki kebijakan berbeda. Pemerintah akan melihat keseriusan PT Indosat Tbk dalam mengembangkan Star One.

Pengamat Telekomunikasi Heru Sutadi mengatakan, berkaitan dengan kebijakan penataan 3G ini, pemerintah menghadapi dilematis. Di satu sisi, pemindahan teknologi perlu dilakukan. Namun, hal itu sulit diterapkan karena memiliki konsekuensi biaya yang besar. Padahal, konsekuensi biaya besar itu juga tidak bisa sepenuhnya dibebankan ke operator, karena penempatan frekuensi yang tidak tepat itu merupakan kesalahan kebijakan pemerintah sebelumnya.

Opsi Sewa CAC
Sementara itu, PT Cyber Access Communications (CAC) belum memutuskan skema pembiayaan pembangunan infrastruktur layanan seluler generasi ketiga (third generation/3G). Salah satu opsi, menyewa dari beberapa vendor seperti Siemens, Nokia dan Huawei.

"Tidak betul kita akan menyewa. Memang ada opsi menyewa. Tapi, kami belum memutuskan. Terlalu cepat jika diputuskan saat ini. Kami harus membaca proposal, harus bicara dengan pemegang saham, dan biasanya butuh waktu sebulan lebih," tutur Executive Chairman Office CAC Laurens Bulters, saat dihubungi Investor Daily, di Jakarta, kemarin (20/6).

Ia membenarkan, untuk tender core network dan IT system yang terdiri atas customer service,aplikasi dan billing system, telah dibuka Jumat (17/6). "Banyak yang ikut," kata dia. Selain itu, CAC juga menggelar tender untuk 200 sites dan base transceiver station (BTS). Nilai total tender US$300 juta.

Laurens yakin, hingga akhir 2005 CAC akan mampu membangun minimal 200 sites dan BTS. "Pembangunan akan jalan dan tercapai 200 BTS," tambah dia.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa skema pembiayaan yang bakal dipilih adalah skema sewa. "Skema financing-nya, Hutchinson dan Charoen Phokphand akan menyewa seluruh peralatan dan maintanance dari vendor seperti Siemens, Nokia dan Huawei. Dengan pembayaran bulanan," tutur seorang sumber, kepada Investor Daily.

Sumber tadi menyebutkan, sesuai ketentuan, CAC sudah harus mempunyai minimal 200 sites dan BTS hingga Desember 2005. "Kalau tidak lisensi dicabut," kata dia.

Terpisah, anggota komisi V DPR Enggartiasto Lukito menuturkan, selaku penerima lisensi, CAC tetap harus membangun infrastruktur sesuai ketentuan."Aturannya, CAC harus membangun," tutur dia.Enggar belum bersedia berkomentar soal opsi skema pembiayaan yang bakal digunakan CAC.

Heru Sutadi menegaskan, adanya opsi sewa menunjukkan CAC tidak punya investasi yang cukup untuk membangun jaringan 3G. "Jika memang sesungguhnya CAC tidak mampu secara finansial, baiknya lisensi yang didapat dikembalikan saja. Sehingga bisa diberikan kepada operator yang mampu,baik keuangan maupun sumber daya manusia," tutur Heru, kepada Investor Daily, kemarin.

Sebelumnya, Laurens menjelaskan, CAC mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 1 miliar untuk lima tahun ke depan.

Dua tahun pertama dari sekarang, perseroan akan membelanjakan dana lebih dari US$ 300 juta bagi pengembangan jaringan. "Hingga saat ini, total investasi yang kami keluarkan sudah mencapai US$ 50 juta hingga US$ 60 juta, dan angka itu akan terus bertambah," kata Laurens. (Investor Daily, 14/4).(tri/ed)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production