JAKARTA, Investor Daily
Pemerintah berharap pemain besar bidang telekomunikasi tidak hanya jago kandang tapi harus mampu menembus pasar luar negeri, seperti Singapore Telecom (Singtel).
Dirjen Pos dan Telekomonukasi (Dirjen Postel) Basuki Jusuf Iskandar mengatakan, pemerintah akan mendorong pemain telekomunikasi nasional berlatih menghadapi kompetisi. Untuk itu, pihaknya bertekad menciptakan situasi yang mendukung, antara lain memunculkan banyak pemain di sector ini.
Dengan iklim kompetisi yang berjalan baik, dia yakin perusahaan telekomunikasi akan berlomba menciptakan inovasi baru. "Jangan, harap hanya dengan perlindungan pemerintah, nggak ada itu. Harus dengan inovasi. Dana, kadang-kadang inovasi dipaksa," ujar Basuki yang sebelumnya menjabat direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas itu.
Dia menilai, industri telekomunikasi Indonesia masih dangkal, terutama bila dilihat dari peran industri manufakturnya yang masih rendah. Hal itu tercermin dari banyaknya handpone yang masih harus diimpor. Tingginya importasi telepon seluler itu, dikhawatirkan membuat sumbangan industri telekomunikasi secara keseluruhan akan menjadi difisit, sehingga membebani devisa negara.
Di sektor manufaktur ini, dia berharap proses pengembangan nilai tambah bisa dilakukan di dalam negeri. Dengan demikian, jelas dia, negara bisa mendapatkan manfaatkan, seperti perakitan yang membuka kesempatan kerja di dalam negeri. "Bila bicara telekomunikasi, terkait ketegakerjaan, sebenarnya banyak uang kita justru untuk menciptakan tenaga kerja di tempat lain," katanya.
Menanggapi tingginya peran pemain asing di pasar telekomunikasi domestik, Basuki berharap peran asing tidak lagi terlalu terfokus lagi pada modal), melainkan transfer ilmu pengetahuan. Dia berharap, pemain nasional dapat mentranformasi ilmu pengetahuani.
Basuki menilai kelemahan industri nasional, terutama terletak pada keterbatasan di bidang ilmu pengetahuan. "Pemain industri ini memang masih perlu banyak belajar dari pemain global," jelas dia.
Harapan Dirjen baru di lingkungan Depkominfo itu sejalan dengan rencana pemain telekomunikasi nasional terbesar, PT Telkom Tbk. Belum lama ini, Dirut PT Telkom Tbk Kristiono mengakui pihaknya akan melakukan ekspansi bisnis, terutama jasa seluler dengan mengakuisisi salah satu operator seluler di kawasan Asia Tenggara tahun depan.
Bahkan, PT Telkom telah membentuk tim yang mengkaji soal pengembangan bisnis termasuk rencana ekspansi ke pasar regional. Namun, realisasi akuisisi operator seluler di negara Asia Tenggara itu belum bisa dilakukan pada tahun ini. Sebab, BUMN itu masih berkonsentrasi menggarap potensi pasar domestik yang masih memiliki prospek menjanjikan.
Sementara itu, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, ketua Masyarakat Telematika, menanggapai positif kemungkinan masuknya pemain nasional ke luar negeri. Bila perusahaan besar nasional seperti PT Telkom Tbk, mulai menggarap pasar luar negeri, hal itu dapat mendukung perkembangan industri domestik, karena, penguasaan bisnis perusahaan terbesar tidak lagi hanya terfokus ke pasar domestik. "Bila Telkom sudah go internasional, Telkom tidak akan terlalu menguasai bisnis dalam negeri dari ujung-ke ujung, dari hulu hingga hilir, sehingga tidak akan mematikan pemain lain," katanya.
Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi melihat belum saatnya bagi PT Telkom Tbk untuk bermain di pasar negara lain. Dia menyarankan Telkom lebih baik memfokuskan diri untuk menggarap pasar domestik yang masih sangat potensial. Meluaskan pasar ke negara lain, semestinya, terjadi karena pasar dalam negeri sudah jenuh.
Sebaliknya, pasar di Indonesia masih jauh dari titik jenuh. "Jadi lebih baik, perusahaan nasional fokus saja, untuk meningkatkan mutu, layanan, dan jaringan," ujar Heru.
Tingkat penetrasi telepon di dalam negeri baru mencapai 4,5% untuk telepon tetap dan 14% untuk seluler. Sehingga, tingkat penetrasi di industri telekomunikasi kita masih bisa ditingkatkan penetrasinya 70-80%. (tri)