JAKARTA (Bisnis): Pemerintah berjanji
mengeluarkan regulasi baru di sektor telekomunikasi yang
memungkinkan masyarakat dapat menikmati tarif telepon
seluler dan seluler tetap (fixed line) yang lebih murah.
Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan A. Djalil
mengatakan regulasi baru itu nantinya diarahkan untuk
dapat menciptakan industri telekomunikasi Indonesia yang
kompetitif sehingga berdampak pada penurunan tarif
telepon.
Menurut dia, tarif telepon yang berlaku saat ini baik
seluler maupun sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) pada
saluran tetap lebih mahal dari seharusnya.
"Sebagai bukti, EBITDA [earning before tax,
depreciation and amortization] margin dari operator
seluler yang beroperasi saat ini rata-rata sekitar 50%.
Padahal idealnya 30% agar masyarakat bisa menikmati
tarif telepon murah," katanya kepada Bisnis kemarin.
| Data
pelanggan dan EBITDA margin 3 operator GSM |
| Operator |
EBITDA margin |
Pelanggan 2004 |
| Telkomsel |
71%* |
16 juta |
| Indosat |
53%** |
9,7 juta |
| XL |
55,5%** |
4,5
juta |
Sumber:
diolah dari berbagai sumber
Ket: *) triwulan
III 2004, **) 2003
Sofyan juga menilai pengguna seluler di Indonesia
membayar biaya komunikasi yang lebih mahal dibandingkan
dengan pengguna seluler di India.
Berkaitan dengan tarif telepon saluran tetap yang
berlaku saat ini, Sofyan berpendapat sudah seharusnya
dilakukan penyeimbangan kembali antara telepon lokal dan
SLJJ.
"Tarif percakapan lokal kota sangat murah, namun di
sisi lain tarif SLJJ sangat mahal. Harus dilakukan
penyeimbangan," papar Sofyan.
Rudiantara, Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler
Indonesia, mengatakan tinggi rendahnya EBITDA margin
harus dilihat dari struktur industrinya apakan masih
dalam tahap perkembangan atau sudah dewasa.
"Untuk saat ini belum tepat untuk menurunkan EBITDA
operator karena masih dalam tahap perkembangan dan
perluasan penetrasi sehingga membutuhkan daya bangun
yang besar," tandas Rudi.
Pengamat telematika dari Universitas Indonesia Heru
Sutadi berpendapat pemerintah tidak perlu mengeluarkan
peraturan tertentu untuk membatasi EBITDA dari operator
tapi lebih baik diserahkan pada mekanisme pasar.
Karena, menurut Heru, meski EBITDA margin sekarang
masih tinggi, jika kompetisi dibuka secara sehat
otomatis tidak bisa dipertahankan di mana operator
justru akan bersaing untuk menawarkan harga murah.
(jha/swi/af)