Operator Seluler Adu Strategi Tarif Hemat
Investor Daily, 24 Februari 2005

JAKARTA, Investor Daily

Memasuki kuartal pertama tahun 2005, operator seluler semakin agresif menawarkan keunggulan produk mereka. Seperti sudah diprediksi banyak pihak, iklim persaingan yang semakin memanas memaksa operator berpikir keras, untuk bisa menarik pelanggan baru maupun mempertahankan basis investor pelanggan yang sudah ada.

Mencoba memberikan tarif hemat, sekaligus mensinergikan pelanggan di perusahaan, menjadi satu tren strategi yang dipakai operator beberapa waktu terakhir ini. Seperti dilakukan PT Telkomsel, perusahaan seluler dengan pangsa pasar terbesar ini telah menurunkan tarif simpati dan kartu halo pada waktu-waktu tertentu.

Tarir simpati turun sekitar 92%, sementara tarif kartu halo turun 83% untuk layanan komunikasi sesama pelanggan perseroan ke seluruh Indonesia pada jam 23.00-06.59 waktu setempat (off peak).

Dengan kebijakan baru tersebut, pelanggan kartu simpati, cukup mengeluarkan Rp 150 rupiah per 30 detik untuk menelepon temannya sesama pelanggan Telkomsel yang berada di Jayapura pada jam off peak. Tawaran tarif ini, tentu saja, sangat menarik bagi pelanggan maupun calon pelanggan Telkomsel, yang suka berkomunikasi pada jam off peak, baik untuk pembicaraan lokal dan interlokal.

Pada pertengahan bulan ini, PT Indosat Tbk juga menawarkan strategi baru melalui ‘Hebat Mentari’. Melalui layanan ini, pelanggan Mentari dapat menikmati tarif khusus Rp 300 per 30 detik (peak/off peak, belum PPN) untuk menelepon pada dua nomor Mentari pilihan yang telah didaftarkan terlebih dulu. Selain itu, Indosat pun memperluas zona lokal, sehingga berpotensi menurunkan tarif lokal.

Sedangkan, strategi yang digunakan oleh operator ketiga terbesar, PT Excelcomindo Pratama (XL), kini, juga adalah terus menawarkan tarif yang kompetitif. Sejak mereposisi diri untuk tidak lagi menjadi operator tarif premium, XL berupaya memperkenalkan identitas baru, dengan menawarkan tarif murah. Melalui kartu Jempol, perusahaan ini berani memberikan tarif yang sangat spesial.

Demikian juga, untuk pelanggan pascabayar, XL menawarkan tarif sangat ekonomis untuk produk Xplor, setelah, perusahaan menyederhanakan perhitungan tarif menjadi per detik.

Terkait guyuran tarif murah itu, Direktur Utama Telkomsel Bajoe Narbito mengakui, sejauh ini, tarif hemat masih sebatas gimmick saja. Dia mengatakan penurunan tarif riil belum terjadi pada produk seluler.

"Dalam lima tahun terakhir, belum ada perubahan tarif," kata dia. Tarif murah off peak di perseroannya, lebih disebabkan karena Telkomsel mengoptimalkan fungsi jaringan saja. Tercatat, kapasitas trafik off peak baru mencapai 8% dibandingkan peak yang mencapai 98%.

Konsumen Tetap Jeli
Selanjutnya, bagaimana sikap pelanggan dengan berbagai tawaran menarik ini? Banyaknya tawaran bisa jadi, justru membuat bingung ketika seseorang harus memilih. Karena, memang tidak ada satu pun kartu yang benar-benar sempurna. Sebaliknya, setiap kartu memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Konsumen harus tetap jeli. Pelanggan memang perlu menyesuaikan kebutuhan komunikasi mereka dengan jenis kartu yang tepat. Mengenali karakterik penggunaan telepon, akan membantu kita, dalam menentukan jenis kartu yang tepat.

Penentuan jenis kartu dapat ditetapkan berdasarkan kebutuhan. Kebutuhan ini dapat dibedakan menurut segmentasi, seperti usia, kelas ekonomi maupun tingkat mobilitas. Kebutuhan pelanggan dengan profesi yang menuntut mobilitas tinggi, tentu saja, berbeda dengan, kebutuhan pelanggan yang tinggal dan bekerja menetap di satu area. Orang yang memiliki mobilitas tinggi, jelas akan memilih kartu yang memiliki coverage memadai.

Begitu pula, kebutuhan seluler bagi seorang profesional juga akan berbeda dengan kebutuhan seluler dari ibu rumah tangga. Kaum profesional memerlukan seluler bukan sekedar untuk berbicara dan ber-SMS, melainkan juga untuk mengakses data.

Bahkan, adanya tawaran tarif Telkomsel dan Indosat di atas, dapat pula membuat pelanggan menyesuaikan kebutuhan secara lebih spesifik, yakni berdasarkan waktu menelepon dan siapa yang biasa ditelepon.

Munculnya, berbagai kartu dengan bermacam-macam keunggulan, akhirnya juga memicu pelanggan untuk mengkombinasikan pemakaian kartu bahkan tidak lagi sesama GSM melainkan dengan fixed wireless Access (FWA) CDMA. Sebab, dengan kombinasi kartu, kelebihan satu kartu dapat menutupi kekurangan kartu lain atau sebaliknya.

"Kalau saya sedang bekerja, saya menggunakan kartu halo, tapi di luar urusan kerja, saya memilih menggunakan kartu Matrik, karena dengan begini saya merasa lebih efisien" kata seorang pelanggan yang memiliki dua kartu telepon.

Terkait hal ini, Pengamat Telekomunikasi Heru Sutadi membenarkan. Namun, secara umum masyarakat Indonesia masih memilih satu kartu telepon saja. Karena, kartu telepon memiliki fungsi sebagai identitas. Kartu lebih dari satu, lanjut dia, hanya terjadi ketika seorang pelanggan memiliki tingkat kemampuan ekonomi lebih tinggi.

"Orang memiliki dua tiga kartu, alasannya, kalau satu kartu pulsanya habis, bisa pakai kartu yang lain. Bisa juga, dengan kartu yang satu, sinyal nggak baik, maka mereka bisa pakai yang lain," katanya.

Lebih lanjut, dengan segmentasi pasar yang sudah ada, operator harus secara tepat membidik segmen pelanggan yang dituju. Operator harus mencocokkan kebutuhan segmen pelanggan tersebut. Tarif bisa jadi, tidak begitu penting bagi segmen pelanggan tertentu.

"Saya tidak akan mengganti nomer saya, meskipun tarifnya mahal, karena saya butuh kehandalan kualitas jaringan untuk mendukung profesi saya," ujar seorang profesional yang bekerja di perusahaan asing.

Sehingga, meskipun sensitifitas terhadap harga cukup besar, namun, tampaknya operator seluler tidak boleh meninggalkan kelengkapan dan kualitas layanan, baik itu coverage, zona roaming, maupun nilai tambah layananan, karena hal itu, akan turut mempengaruhi keputusan pelanggan dalam memilih kartu. (trimurti)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production