JAKARTA, Investor Daily
Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menjadwalkan pergantian Direktur Utama (dirut) PT Telkomsel pada 1 Maret 2005.
Dirurt Telkom Kristiono mengatakan, manajemen Telkom selaku pemilik 65% saham Telkomsel telah memiliki beberapa nama calon yang akan menggantikan posisi Dirut Telkomsel Bajoe Narbito.
Namun, Kristiono belum bersedia menjelaskan identitas calon-calon tersebut. Pastinya, calon tadi berasal dari orang dalam Telkom. "Pasti dari Telkom. Mana ada pemegang saham mayoritas dirutnya dari Singtel," kata Kristiono, seusai Rapat Dengar Pendapat RDP Telkom dengan Komisi V DPR, di Jakarta, Selasa (22/2).
Kini, nama-nama calon dirut Telkomsel tengah digodok untuk mendapat persetujuan dari Singtel selaku pemegang 35% saham Telkomsel. Pergantian dirut Telkomsel tidak melalui proses Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) melainkan pola bergilir (circular resolution) yang telah disepakati pemegang saham.
Menurut Kristiono, keputusan penggantian dirut melalui circular resolution dilakukan dengan pertimbangan kepraktisan. Selain itu, dari aspek legal juga memang dimungkinkan. Cara yang sama bahkan telah digunakan ketika terjadi penggantian direktur pemasaran Telkomsel yang berasal dari Singtel pada Januari 2005.
Pergantian dirut Telkomsel harus segera dilaksanakan, mengingat Bajoe Narbito telah memasuki masa pensiun dan sudah mengalami masa perpanjangan dua kali. Bajoe sudah memasuki masa pensiun sejak pertengahan 2004. Kemudian, direksi Telkom memperpanjang sampai dengan akhir tahun 2004, dan diperpanjang lagi sampai akhir Februari 2005.
Rumor Calon Dirut
Saat ini beredar rumor calon-calon dirut Telkomsel. Tiga eksekutif di tiga divisi regional (Divre) Telkom dikabarkan menjadi calon kuat. Ketiga divre tersebut mencakup divre I, II dan VII.
"Tiga petinggi divre menjadi calon dirut Telkomsel," tukas sumber di Telkom.
Mengenai kriteria dirut Telkomsel yang memiliki pelanggan lebih dari 16,2 juta itu, pengamat telekomunikasi Danrivanto Budhiyanto mengatakan, calon dirut Telkomsel harus memiliki visi kenegaraan dan kemampuan memimpin perseroan untuk tetap mempertahankan posisi pemimpin pasar (survive in competition). Saat ini Telkomsel menguasai lebih dari 50% pasar seluler di Tanah Air.
Visi kenegaraan, lanjut dia, diperlukan karena Telkomsel adalah anak perusahaan BUMN. Sedangkan, sosok pemimpin yang memiliki kemampuan untuk membawa Telkomsel tetap survive dalam kompetisi, sangat diperlukan mengingat semakin kerasnya iklim persaingan bisnis seluler.
Sedangkan, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi menekankan calon dirut Telkomsel harus memiliki kemampuan dalam menghadapi persaingan. Terutama dalam menerapkan strategi pemasaran yang unggul, kreatif dalam menciptakan inovasi teknologi maupun meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) di Telkomsel.
Dia juga menekankan dirut Telkomsel haruslah seorang yang profesional. Terkait kemungkinan, masuknya, calon dirut titipan dari parpol atau pejabat, dia mengatakan semestinya hal itu tidak akan terjadi. Karena, posisi SingTel, sebagai pemegang 35% saham Telkomsel, dinilai cukup kuat, untuk menolak calon dirut titipan yang tidak profesional.
Tak Akan Jual Saham
Kristiono menegaskan, tidak memiliki rencana untuk menjual kembali sisa saham 65% di Telkomsel.
Sebaliknya, bila Singtel berniat menjual sahamnya di Telkomsel, Telkom mengaku berminat untuk membelinya. Telkom menyadari prospek perkembangan industri seluler ke depan masih sangat cerah. Telkomsel juga terbukti telah memberikan kontribusi pendapatan yang tinggi bagi Telkom.
Singtel membeli saham Telkomsel dalam dua tahap. Tahap pertama, sebesar 22,3% pada akhir 2001 dan 12,7% pada tahun 2002. Total dana yang dikeluarkan Singtel mencapai US$ 1,6 miliar. Kontribusi Telkomsel terhadap Singtel pada akhir 2004 tumbuh 19% mencapai S$ 153 juta atau setara Rp 856,8 miliar (kurs Rp 5.600/S$). Tahun 2004, Singtel mengenyam deviden dari Telkomsel senilai S$ 61 juta atau setara Rp 341,6 miliar. (tri)