Studi Palapa Ring Rampung Tahun 2005
Investor Indonesia, 31 Januari 2005

JAKARTA, Investor Daily Online

Pemerintah menargetkan studi proyek infrastruktur jaringan kabel serat optik Palapa Ring selesai pada tahun ini. Susilo Hartono, direktur Telekomunikasi dan Informasi Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) menjelaskan, hasil studi proyek Palapa Ring ini, nantinya akan dipublikasikan. Selanjutnya, diharapkan proyek tersebut akan mendapatkan dukungan.

Tim studi akan mulai bekerja segera setelah pemerintah menyiapkan kerangka acuan. Adapun, tim studi proyek Palapa Ring, akan melibatkan ahli dari International Telecommunication Union (ITU). Selain itu, tim juga akan beranggotakan beberapa pihak yang kompeten dalam berbagai bidang, seperti telekomunikasi, teknologi informasi, dan ekonomi. Tim akan dibentuk oleh pemerintah. Alasannya, anggota yang duduk dalam tim studi bagi proyek ini mensyaratkan adanya kemampuan khusus. Tentu saja, penunjukkan akan dilakukan, bila dari sisi regulasi tidak ada pelanggaran. Dan tampaknya dalam proyek ini, persyaratan dapat dipenuhi. Secara hukum proyek yang akan ditangani memang spesifik.

"Syarat suatu program, bisa dilakukan penunjukan, dikatakan kalau itu bersifat sangat spesifik dan khusus," kata Susilo. Menyinggung manfaat proyek ini, Susilo optimistis proyek ini memberikan manfaat yang besar, terutama dalam melengkapi dan mem-back up infrastruktur telekomunikasi yang sudah ada.

Saat ini, infrastruktur telekomunikasi yang menghubungkan Sabang hingga Merauke masih menggandalkan satelit saja. Dari sisi jangkauan (coverage), satelit memang bisa menjangkau seluruh wilayah. Namun, satelit memiliki keterbatasan umur.

Sedangkan, dua jaringan infrastruktur lain, sambungan kabel bawah laut (SKKL), dan microwave link masih memiliki jangkauan terbatas. Sehingga, adanya ring, atau sabuk yang menghubungkan Sabang sampai Merauke, dipastikan masih memiliki peran penting sebagai punggung infrastruktur Indonesia.

Selain itu, Palapa Ring juga akan menghasilkan kapasitas telekomunikasi yang sangat besar dengan kecepatan yang sangat tinggi pula. "Saya kira nanti, serat optik ini dapat dengan mudah meneruskan suara, gambar dan multimedia," katanya.

Di sisi lain, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengatakan, bila dilihat dari sisi infrastruktur telekomunikasi nasional, posisi Palapa Ring dinilai sangat strategis mengingat koneksi antarpulau di Indonesia yang ada saat ini masih belum mencukupi. Peran proyek ini juga penting bila dikaitkan dengan kebutuhan lebar pita (bandwidth) yang tentunya akan kian meningkat. Sehingga diperlukan juga satu teknologi berbasis serat optik, yang dalam satu core-nya dapat menyalurkan lebih dari 800 Gbites. "Sistem ring, akan bermanfaat jika satu jaringan terputus, maka komunikasi tidak ikut juga terputus melainkan dapat memakai jaringan yang tidak terputus. Dalam istilah tekniknya sering disebut path protection system (PPS)," katanya.

Sementara itu, dalam roadmap investasi infrastruktur yang disampaikan Deputi Infrastruktur Badan Perencanaan pembangunan Nasional, Palapa Ring mulai diimplementasikan pada tahun 2008. Sesuai jadwal, pembangunan proyek backbone fiber optik sepanjang 30 ribu kilometer tersebut akan diselesaikan dalam tiga fase.

Fase pertama, pembangunan ring timur yang meliputi wilayah Papua, Maluku dan Nusa Tenggara Timur akan dikerjakan mulai tahun 2008 hingga 2012. Fase kedua, ring tengah meliputi Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan mulai tahun 2013 sampai 2016. Fase ketiga, ring barat yang meliputi Sumatera dan Jawa, mulai dikerjakan 2017 sampai 2020.

Bappenas memproyeksikan, pendanaan pembangunan proyek backbone ini mencapai US$ 1.600 juta dan direncanakan berasal dari tiga sumber. Sumber pendanaan dari sektor swasta diharapkan akan mencapai US$ 1.060 juta. Sedangkan, pendanaan pemerintah dan BUMN diharapkan masing-masing dapat menyumbang US$ 240 juta dan US$ 300 juta.

Telkom Tunggu Hasil Studi
Palapa Ring akan mengintegrasikan semua jaringan yang dimiliki operator telekomunikasi maupun instansi lain. Sehingga, beberapa entitas bisnis seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), dan PT PLN yang memiliki jaringan teknologi berpotensi untuk berperan lebih jauh dalam pengembangan proyek ini.

Kristiono, direktur utama Telkom mengaku masih menunggu hasil studi untuk bisa menentukan apakah pihaknya akan berinvestasi di dalam proyek Palapa Ring. Sebab, mereka belum memiliki informasi yang cukup mengenai proyek strategis ini.

"Kita belum mengerti, Palapa Ring kayak apa? Feasible atau tidak, model pengelolaannya kayak apa? Itu, belum jelas semua, jadi harus diperjelas dulu, setelah jelas, kita pelajari, dan bila bagus, kita tertarik," katanya. (tri)

 

 

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Boleh Mengutip, Memperbanyak dan Menyebarkannya
dengan Mencantumkan Sumbernya

2005 © Heru Production