Jakarta, Sinar Harapan - Sebuah buku tentang hacking laris manis, dicetak ulang. Gejala publik kita meminati dunia hacking. Pertanda baik atau buruk bagi dunia teknologi informasi (TI)?
Buku setebal 216 halaman tersebut bertitel Seni Teknik Hacking 1: Uncensored (SIH). Ditulis oleh lelaki yang menamakan dirinya Sto. Bagi mereka yang tak familier dengan dunia underground alias komunitas gelap di internet, nama ini memang masih anyar. Namun sebaliknya, Sto cukup populer dan bisa dibilang pakar hacking.
SIH merupakan buku yang berisi kumpulan teknik yang sering digunakan di dalam dunia para hacker. Buku ini merupakan jilid pertama yang memberikan dasar-dasar untuk teknik yang akan dibahas pada jilid-jilid selanjutnya, terbitan Jasakom Publishing.
Di luar dugaan, buku ini laku keras. SIH telah mengalami cetak ulang untuk keempat kalinya dalam kurun waktu hanya empat bulan. Total sudah 10.000 eksemplar yang beredar, sementara penjualan sudah mencapai 7.000 eksemplar.
Edisi cetak ulang keempat yang baru saja beredar bukan hanya sekedar cetak ulang, tapi juga telah dilakukan penyempurnaan berupa tambahan bab khusus dan Frequently Asked Question (FAQ) alias daftar pertanyaan yang paling sering diajukan. Bab khusus yang di tambahkan adalah pembahasan tentang hacking ke KPU.
Cara Pandang
”Tergantung kita bagaimana melihatnya,” ujar Sekjen Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Informasi, Heru Sutadi kepada SH di Jakarta, Selasa(14/12). Ada segi positif sekaligus negatif dari terbitnya buku mengenai hacking. Segi positifnya, kita bisa tahu apa dan bagaimana hacking itu sehingga kita bisa mengantisipasi hal tersebut dengan memperkuat security-nya.
Sedangkan negatifnya, karena dijabarkan mengenai bagaimana hacking, ini juga dapat menantang atau mengajarkan orang bagaimana melakukan hack. Heru juga berharap dengan larisnya buku tersebut, kita akan punya pakar security . Yang ditakutkan adalah kalau buku tersebut dipelajari oleh orang yang sombong, ingin membuktikan dirinya bisa melakukan hacking.
Sedangkan Basuki Suhardiman, mantan Kepala Teknis Tim TI Komite Pemilihan Umum justru menyambut baik lahirnya buku tentang hacking. ”Itu pertanda baik, agar orang mengerti soal hacking walau bahan yang dikupas masih yang di atas permukaan,” ujar lelaki yang kini menjabat sebagai Kepala Infrastruktur TI Institut Teknologi Bandung ini kepada SH dalam kesempatan berbeda.
Basuki merasa itu sama sekali tidak usah ditakuti, sebab pembobolan situs web bukan saja terjadi pada web KPU tapi juga banyak web lain. Menurutnya, apabila informasi mengenai hacking tersebut tersebar, artinya semua orang bisa waspada.
(SH/merry magdalena)